OK Karya Pemuda 2

Berhimpitan dengan rumah-rumah yang padat penduduk, dan dibelah rel kereta api antara Stasiun Jebres dengan Stasiun Balapan menjadikan warga kampung Tegalharjo merasakan perlunya media yang mempertemukan mereka. Di belakang SMA Kristen Solo para warga membuka kembali ingatan mereka akan kelompok keroncong yang pernah membesarkan nama Tegalharjo di era 1980-an sampai dengan 1990-an. Keroncong Kelana Remaja pada era itu memang dikenal sebagai salah satu kelompok keroncong yang cukup terkenal di Solo.
Mulai para eks anggota Kelana Remaja mengaktifkan kegiatan keroncong dengan berkumpul setiap Kamis di kantor  Pada tahun 2010 disepakati untuk membentuk kelompok keroncong Karya Pemuda, untuk memudahkan kegiatan direkrutlah anak muda yang suka dengan keroncong, tidak ketinggalan beberapa siswa SMK N 8 yang merupakan sekolah menengah seni juga dilibatkan.

https://www.facebook.com/events/185569708284961/

OK Taruna Kusuma

Orkes Keroncong Taruna Kusuma merupakan kelompok keroncong dengan usia para pemusiknya masih terbilang muda, mereka selama ini berlatih di Turisari , Solo dengan pelatih Sapto, salah seorang pemusik keroncong handal di kota bengawan ini. Sapto dikenal sebagai anggota keroncong Swastika, kelompok keroncong paling sering memenangkan lomba, dan sering mendapat undangan untuk pentas keroncong di berbagai tempat. Selain Sapto, Taruna Kusuma juga dilatih Pamudji, salah pengiat keroncong di Solo. Nama Pamudji di kalangan pemusik keroncong dikenal sebagai orang yang membangun jaringan pemusik keroncong se-Solo, karena aktivitas tersebut, Pamudji sering kali menjadi rujukan masyarakat awam untuk bertanya tentang musik keroncong.OK Taruna Kusuma, Solo.

Keroncong Bukan Dominasi Kaum Sepuh

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/keroncong-bukan-dominasi-kaum-sepuh/
24 Juni 2015
Anggapan musik keroncong hanya milik orang sepuh tampaknya tidak selalu. Genre musik itu kini mulai dilirik kalangan generasi muda yakni anak-anak dan remaja.
Setidaknya hal itu ditunjukkan para emaja yang tergabung dalam Orkestra Keroncong Taruna Kusuma dari Pucangsawit, Jebres Solo. Di bawah pembinaan FX Hadi Rudyatmo, Wali Kota Surakarta, orkestra itu sudah beberapa tahun membina sejumlah pemuda usia SMP, SMA, perguruan tinggi.

‘’Saat ini memang sebagian besar pemusiknya sekolah di Jurusan Musik SMK 8 Solo dan malah ada yang sudah lulus,’’ kata Pamuji Adi, salah seorang pimpinan orkes itu. Taruna Kusuma tampil dengan format orkestra keroncong melibatkan sebanyak 25 pemusik. Kelompok itu terasa lebih komplit dibanding orkes keroncong klasik yang hanya memainkan delapan instrumen.

Formasi orkestra keroncong memang lebih banyak komposisi instrumennya dibanding orkes keroncong asli. Selama ini orkes keroncong hanya memainkan tujuh alat musik yaitu biola, flute, cuk, cak, bass dan cello serta gitar.
Pada orkestra dilengkapi instrumen tiup selain flute, seperti klarinet, tenor maupun terompet. Instrumen biola dan flute seringkali dimainkan tidak hanya satu pemusik sebagai bentuk komposisi orkes yang lebih besar.
Selain pemusik yang semuanya masih berusia remaja, vokalis yang tampil juga seusia. Rata-rata mereka sudah menekuni tarik suara sejak SMP di OK Taruna Kusuma.

Pada pentas di Balai Soedjatmoko dalam konser berlabel Keroncong Bale, belum lama ini, OK Taruna Kusuma mengusung 12 lagu yang didendangkan oleh enam penyanyi.
Konser diawali oleh penyanyi Yhulita Kusuma Pramurdya yang membawakan langgam ‘’Bunga Anggrek’’ disusul Septia Rachma Pramurdya dengan ‘’Keroncong Sedap Malam’’. Lagu keroncong legendaris, ‘’Bengawan Solo’’ ciptaan maestro keroncong, Gesang didendangkan Venus Nur Fatimah.

Satu lagu pop berjudul ‘’Asmara’’ dilantunkan oleh Rima Azhary yang dilanjutkan dengan lagu stambul ‘’Kuciwa’’ oleh penyanyi keroncong senior Yanti Sapto. Pamuji Adi ‘pun tidak ketinggalan tampil menyanyi. Karyawan Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta(TBS) itu membawakan tembang pop ‘’Biarlah Bulan Bicara’’, yang dirangkai dengan langgam ‘’Lamunan Kalbu’’ oleh Yhulita Kusuma Pramurdya.
Satu tembang pop lainnya ‘’Sang Dewi ‘’diusung Septia Rachma Pramurdya yang dilanjutkan oleh Yanti Sapto dengan ‘’Keroncong Baktimu Kartini’’.

Orkestra keroncong itu mengakhiri konsernya lewat tembang ‘’Keroncong Tugu’’ oleh Pamuji Adi dan ‘’Kumpul Bocah’’ oleh Rima Azhary.(Sri Wahjoedi-68).